Skip to main content

Posts

SEMPURNA

Menanti, melihat, menyaksikan dan merasa. Kebenaran milik siapa. Sempurna. Kenapa mendambakan yang sempurna disaat diri pun sulit mencapainya. Nafsu. Ya memang itu yang mungkin mensugesti fikiran dan rasa untuk sombong menilai. Dengan obsesi tinggi mendamba kesempurnaan dari yang diharapkan. Mencari dan terus mencari. Menemui dan lagi dan lagi menemui dia yang baru, dia yang berbeda. Selalu ada beda. Memang beda. Dan jelas tak sama. Yang bisa kita simpulkan bila sadar kalau mereka sama adalah mereka punya kelebihan, pun juga mereka punya kekurangan. Itu, ternyata, pasti. Dan itu, ternyata, memang benar. Itu kebenaran. Yang sampai sekarang belum diri ini pahami adalah barangkali obsesi nafsu yang terlalu tinggi dan kesulitan memberikan empati pada rasanya dan nafsunya.  Masihkan rasa ini akan terus mengejar dan merasa. Ingat, tak ada yang sempurna. Hanya DIA. 

PASSION TERPAKSA

PASSION itu rasa, Terpaksa juga rasa. Bagaimana apabila rasa yang tercipta tak sesuai dengan cita yang disemogakan. Aku ingin bilang apa. Ini yang dijalani sekarang. Hatiku tak bergetar disini. Malah terbeban fikiran sampai tidurku terbawa imajinasi tekanan. Apamau dikata, ini yang dijalani sekarang. Hati bergetar endorfin mengalir disaat yang diminati terkadang dipandang dan hanya merasa merasakan.  Terpaksa, menekan passion. Diminta sabar. Berusaha membiarkan. Hati fikiran merana. Aku sedang mengeluh. Iya memang.  Doa selalu terpanjat. Pasrah sebetulnya apakah semena-mena pasrah. Tidak bisa seperti itu. Tetapi memang kesulitan untuk bergerak. Terus terang tidak tau harus kumulai dari mana. Mencoba menghibur diri. Sendiri. Kadang juga memikirkan. Sendiri. Bersyukur dulu.
SUDAH Ketika sudah belum menjadi sudah, dan penundaan hanya sekedar wacana. Maka waktu mungkin kan sedikit terlupa sampai pada akhirnya diri merasa perlu. Apakah arti mengadu bila rasa tak berjumpa pada asa. Mungkin memang sebuah pilu bilamana teringat akan ilmu yang tergapai. Mencapainya merupakan kesempurnaan yang sering terlelap dalam ilusi bosan. Syukur kan mungkin merupakan jawaban. Namun nyata tak selalu bersambut pada rasa. Sudah hanyalah keputusasaan yang sejatinya diharamkan.
30 Paspor di Kelas Sang Professor,   Itu salah satu judul buku yang baru saja buka. beberapa halaman saja yang sempat saya baca. keburu ada customer dan keburu dilihat para SA dan security dan yang lainnya malah baca di area jual.  Yang masuk dalam pikiran saya adalah to be open mided itu penting memang sekarang. Di buku tersebut penulis sebagai dosen menyebutkan tugas pertama yang dia berikan kepada mhasiswanya adalah membuat pasport. Kenapa? Pasport adalah salah satu pintu gerbang atau legalisator kita untuk berhubungan di dunia luar dengan cara yang lebih nyata.  Terus ketika sudah punya paspor, bagaimana keluar negerinya. jangan tanyakan uang. itu jawabanya. Pertanyaan tentang uang hanya akan menghalangimu untuk mendapatkan apapun yang ingin dicapai.  Selalu ada cara. Ketika pasport ada, kita akan terotomatisasi untuk mencari jalan untuk menggunakan pasportnya. Sponsor, cari tiket dan harga hotel termurah, jasa mencuci piring direstoran ketika tidak a...

Tanpa AKU

Sedang Mencari Kenapa dan Bagaimana. Hidup.  Memang tidak bisa sendiri. Tapi memang terkadang ingin sendiri. Selalu butuh. Selalu butuh diperhatikan tapi menyendiri. Sebenarnya ingin itu, semua. Mungkin termasuk orang yang perfectionist; mungkin itu jawaban kenapa merasa selalu kurang. Apakah merasa selalu kurang atau sedang belajar menyadari sendiri.  Oh, Tuhan maafkan. Yang selalu merana dan meratapi. Katanya kurang bersyukur. Sejenak mungkin itu benar. Tapi telah selalu mencoba mensyukuri. Merasa sampai pada saat ini bukan hasil dari, tetapi merasa ini barokah dan keberuntungan dariNya. Apakah telah salah atau sedang apa. Tapi inilah. Memang ini yang rasakan. Tidak bisa lagi membohongi diri sendiri. Seperti keahlian yang selalu diandalkan untuk menutupi kekurangan. Merasa. Merasa ini bukan. Tapi ini yang terjadi pada. Terlalu malu untuk frontal terbuka pada dunia dan isinya, manusianya, sekitar, mereka. Mereka yang jauh, dekat, dan akrab, apalagi sedarah. Tetap sa...
Fatamorgana Lalu ketika hari lalu berganti jadi sendu sendu kah rasaku tidak tak sesempit sisi petak kau sungguh sungguh indah di mata fatamorgana ketika hari berganti berlalu   mampukah dimensi hati membagi kegalauan air mata mengalir mengalir menganak sungai sungai ku tak layaknya amazon liar lugas tak terkawal aku  dia  mereka dan para pengawal kosong tapi penuh laron bak peron bergumam berlalu berganti tak peduli tenang riang ikuti sinar terang ketika dan hanya ditemani seandainya Nur Rochman Fatoni 30/03/2014 – 22.35

BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA SEMANGAT

Sekarang ya jelas berbeda dari yang dulu. Dulu seakan membuka gerbang beton berangka baja yang tlah lama kaku oleh waktu; sungguh beratnya tak terurai. Dulu memang itulah ketika harus memulai. sekarang bukan lagi memulai. Sekarang adalah tinggal menjalani. Bagai telah berada di ruas jalan tuk kesana. Semua tinggal aku kan berlari, berjalan atau kadang istirahat sejenak.  Tlah kumulai dan tlah berjalan kini. Ku yakin kan sampai pada akhirnya yang indah nanti. Allah telah menyiapkan yang harus kita raih. Terus berdoa, berusaha, dan tawakal. Jaga diri, jaga hati, jaga fikiran, jaga semangat.  Aku adalah aku, Independen itu perlu. @NR_fatoni Yk, Jan22.2014: 23.29